Sabtu, 30 November 2019

Pendalaman Terapi Sholat Bahagia

   Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang Pendalaman Terapi Sholat Bahagia atau yang biasa disingkat “PTSB” ini, alangkah lebih baiknya kita mengenal terlebih dahulu sosok yang menggagas Terapi ini. Beliau adalah Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag. Beliau dilahirkan di Lamongan, 09 Juni 1957. Saat ini beliau sudah beristri dan memiliki 7 anak dan 3 cucu. Beliau merupakan alumni dari Ponpes Ihyaul Ulum Gresik pada tahun 1975.
   Prestasi dan sepak terjang beliau antara lain: Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (sejak 2004); Dosen Teladan Nasional (2004 dan 2007); Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (2000-2004); Pengurus Pembaca dan Penghafal Al Qur’an Jatim (1994); Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI 2009-2013); Unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur; Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang); Konsultan Pendidikan Yayasan Khadijah (2011-sekarang); Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris; Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an;  Asesor Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi;  Saksi Ahli Mahkamah Konstitusi tentang UU Penodaan Agama;  Penasehat Forum Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama; Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Al Khoziny Sidoarjo (1990-2009); Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kyai Ibrahim Surabaya;  Penasehat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (2002); Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim; Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro.1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM) dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM. Imam shalat taraweh/penceramah Islam di Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006 dan 2013), Iran (2008, 2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005), Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015). 
   Sedangkan buku-buku yang berhasil ditulis beliau antara lain: 60 Menit Terapi Shalat Bahagia (UIN Sunan Ampel Press 2012) sekaligus sebagai founder dan trainer Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB), Doa-doa Keluarga Bahagia (Surabaya, Kun Yaquta Foundation 2014)Bersiul di Tengah Badai (UIN Sunan Ampel Press 2015), Teknik Khutbah Jum’at Komunikatif (UIN Sunan Ampel Press 2014), Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ) (Imtiyaz Surabaya 2011), Ilmu Dakwah (Prenada Jakarta 2008), Dinamika Kepemimpinan Tokoh Agama di Indonesia (Harakat Media Jogjakarta 2008), Hijrah (Harakat Media Jogjakarta 2008), Solusi Ibadah di Hongkong (Duta Masyarakat Surabaya 2008), Solusi Ibadah di Taiwan (PCNU Taipei 2010), (2014); Dalam proses cetak buku Terapi Shalat Sukses Studi. Pengisi kajian tafsir Al Qur’an di Majalah Nurul Hayat dan Majalah Sabilillah, konsultasi keluarga bahagia di Majalah Nurul Falah; rubrik agama di Harian Duta Masyarakat (2010), Rubrik Dialog mualaf di Tabloid Nurani (1995)
   Kali ini, saya akan sedikit mengupas tentang salah satu bukunya yaitu “60 menit Terapi Shalat Bahagia” sekaligus ‘Pendalaman Terapi Sholat Bahagia”. Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag yang berisi manual sederhana menuju kebahagiaan melalui shalat telah beredar dan menjadi bacaan publik. Akan tetapi, untuk pemahaman dan penghayatan yang lebih maksimal dibutuhkan kegiatan Pendalaman Terapi Shalat Bahagia (PTSB) dengan pencerahan dan bimbingan praktek dari penulis /founder dan atau timnya.

   Sejauh ini, beliau tidak hanya berhasil mengadakan terapi di dalam negeri saja. Namun beliau sudah berhasil mengadakan terapi ini hingga mancanegara. PENDALAMAN TERAPI SHALAT BAHAGIA (PTSB) yang pernah diadakan, antara lain:

1.      PTSB di Teheran Iran, (buku belum diterbitkan, 2009-2010)
2.      PTSB Masjid Wanchai Hong Kong
3.      PTSB Grand Mosque Taipei (28-10-12)
4.      PTSB Masjid Besar Taichung
5.      PTSB Mushalla FKPIT Yilan Taiwan
6.      PTSB Detention Centre (Penjara) Yilan Taiwan. (29-10-12)
7.      PTSB Bappeprov Jatim
8.      PTSB Dokter/karyawan RSI Jemursari (Des 2012)
9.      PTSB Dokter/karyawan/umum RS Haji Surabaya
10.  PTSB (Angkatan I-V) Masjid Al Qolbu Sidoarjo
11.  PTSB Guru-Guru Teladan Tuban
12.  PTSB Guru-guru SMA Khadijah Surabaya
13.  PTSB Lembaga-lembaga Sosial Khadijah
14.  PTSB Radio El-Victor Surabaya (angkatan I-IV)
15.  PTSB Bank Jatim (13-4-13)
16.  PTSB (rutin) untuk Duafak di Siwalankerto, Surabaya
17.  PTSB Yayasan Panti Asuhan Sabilillah di Hotel Oval Surabaya
18.  PTSB Yayasan Panti Al Madinah Surabaya, dll
   Ini adalah beberapa testimoni dari pemraktek PTSB ini:
The new and most interesting teaching of shalat. It really makes me and family happy” Mhd. Ali, Bangladesh.
“Inilah manajemen shalat yang detail dan menarik. Saya pasti merubah shalat saya, yaitu memperbanyak doa di dalamnya daripada di luar shalat” Dahlan Iskan, Jawa Pos Group.
  
>Mengapa PTSB?  
   Dengan membaca selama satu jam buku “60 Menit Terapi Sholat Bahagia”, anda sudah bisa memaknai makna dari kalimat kunci; “SUBHAN TURUT HADIR di MASJID untuk AKSI SOSIAL” dan diharapkan mendapatkan kedahsyatan pengaruh shalat terhadap kehidupan anda. Akan tetapi, kata Les Giblin (2009), jika dengan cara itu semata, Anda hanya bisa mengingatnya maksimal 10%. Baru mencapai 70% jika anda mencoba mengucapkannya, dan menigkat menjadi 90% jika berlatih mengucapkan dan mempraktekkannya.
   PTSB memberikan bimbingan dan praktek shalat agar Anda memahami dan mengingatnya lebih kuat dan bisa memantapkan keyakinan akan kebesaran Allah, percaya diri, dan optimis akan penyelesaian semua masalah menuju hidup bahagia. Wajah penuh bahagia adalah cermin syukur kepada Allah. Hanya pribadi bahagialah yang bisa maksimal berkreasi, produktif, dan membahagiakan orang lain.

>Pentingkah PTSB?
   Mereka yang sudah mengikuti PTSB adalah yang paling berhak menjawab pertanyaan ini. Ikuti testimony mereka yang telah berhasil mengubah mindset untuk ikhlas dan ridlo atas keputusan Allah setelah mengikuti PTSB. Bukan founder dan bukunya yang hebat, tapi semata mata penghayatan shalatnya yang luar biasa. Tujuan utama shalat adalah kokohnya mindset T2Q (tawakal, tumakninah, dan qona’ah), sedangkan kesembuhan, rizki dan sebagainya hanya bonus semata, sekalipun semua itu sangat dibutuhkan. Tetapi sebelum mengikuti PTSB ini, anda diharapkan menulis terlebih dahulu daftar anugrah dan daftar masalah & harapan.




>Apa Kegunaan Daftar Anugrah dan Daftar Masalah & Harapan
   Sebelum Shalat, anda sebaiknya menyiapkan Daftar anugerah (DA), yaitu apa saja nikmat besar Allah yang telah anda terima, agar pernyataan syukur anda terfokus selama shalat. Anda perlu juga mencatat  apa saja masalah hidup dan harapan anda. Dengan bantuan Daftar Masalah dan Harapan (DMH) yang telah disiapkan itu, anda bisa rukuk dan sujud lebih lama dengan penuh penghayatan. Oleh sebab itu, tulislah dengan pilihan kata dan kalimat terbaik.

>Praktek Sholat
     Kali ini, kita akan membahas tentang Terapi Sholat Bahagia. Tapi sebelum itu, anda harus mengingat kembali kata kunci yang sebelumnya pernah dibahas pada halaman sebelumnya, yaitu; “SUBHAN TURUT HADIR di MASJID untuk AKSI SOSIAL”. Disini akan dibahas makna dari kata kunci tersebut dan prakteknya di dalam sholat.
 1) Posisi Berdiri
   Kata Kunci: SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan Iman)
   Renungan/Doa (Dalam hati, Tidak boleh diucapkan):
-Syukur: “Wahai Allah, aku bersyukur atas semua nikmatmu”
-Bimbingan: “Bimbinglah aku dan keluargaku agar tetap di jalan yang benar”
-Ketahanan Iman: “Berilah aku ketahanan iman untuk melawan hawa nafsu agar selamat dari kesesatan dan murka-Mu”

2) Posisi Rukuk
   Kata Kunci: TURUT (Tunduk; Menurut)
   Renungan/Doa (Dalam Hati, Tidak boleh diucapkan)
   -Tunduk: “Wahai Allah, aku tunduk membungkuk kepada kehendak-Mu. Aku bertasbih dan      menyerahkan hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin, dan semua persoalan kepada-Mu)
   -Menurut: “Aku menurut kepada semua perintah-Mu. Ampunilah dosa-dosaku”

3) Posisi I’tidal
   Kata Kunci: HADIR (Hak pujian; Takdir)
  
   Renungan/Doa (Dalam hati, Tidak boleh diucapkan)
   -Hak Pujian: “Hanya Engkau yang berhak dipuji. Ampunilah aku karena terlintas mengharap  pujian manusia”
   -Takdir: “Semua hal terjadi atas takdir-Mu. Aku ridla dan ikhlas menerimanya”

4) Posisi Sujud
   Kata Kunci: MASJID (Maaf, Sinar, Jiwa dan Raga)
   Renungan/Doa (Dalam hati, Tidak boleh diucapkan)
   -Maaf: “Maafkan dosa-dosaku, bapak-ibu dan keluargaku”
   -Sinar: “Sinarilah hati, lidah, mata, dan telingaku agar selalu berbuat yang Engkau ridlai”
   -Jiwa dan Raga: “Jiwa dan ragaku dalam kekuasaanmu. Aku serahkan hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin dan semua persoalan kepada-Mu”

5) Posisi Duduk Antara Dua Sujud
   Kata Kunci: AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera, Iman)
   Renungan/Doa (Dalam hati, Tidak boleh diucapkan)
   “Wahai Allah, berilah aku:”Ampunan, Kasih, Kesejahteraan, dan Iman”

6) Posisi Tasyahud
   Kata Kunci: SOSIAL (Sholawat, Persaksian, Tawakkal)
   Renungan/Doa: (Dalam hati, tidak boleh diucapkan)
   -Sholawat:“Sholawat dan salam untuk Nabi SAW.Berikan aku kekuatan menyontoh akhlaknya”
   -Persaksian:”Aku bersaksi,’Tiada Tuhan selain Engkau, dan Muhammad adalah utusan-Mu’. Jadikan syahadat pegangan dan penutup hidupku”
   -Tawakkal: ”Aku serahkan hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin dan semua persoalan kepada-Mu”



>Manfaat Gerakan Sholat bagi Kesehatan
  1. Takbiratul Ihram. Takbiratul Ihram merupakan gerakan yang pertama kali dilakukan dalam shalat. Dengan cara berdiri tegap, mengangkat kedua tangan ke samping telinga lalu bersedekap. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah menjadi lancar. Gerakan kedua tangan yang bersedekap di dada bagian bawah memiliki manfaat untuk mencegah gangguan persendian.
  1. Ruku’. Gerakan ruku’ yang benar adalah apabila tulang belakang lurus sehingga jika ditaruh segelas air maka air tersebut tidak akan tumpah. Gerakan ini menjaga posisi dan fungsi tulang belakang sebagai penyangga tubuh. Adapun tangan-tangan yang bertumpu pada lutut merupakan relaksasi untuk otot-otot bahu sampai ke bawah.
  1. I’tidal. Gerakan ini ditandai dengan bangun dari ruku’ lalu mengangkat kedua tangan di samping telinga. Gerakan ini membuat pencernaan menjadi lancar karena organ pencernaan yang ada pada perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian
  1. Sujud. Posisi jantung yang berada di atas otak menyebabkan darah yang kaya akan oksigen mengalir ke dalam otak. Hal ini berpengaruh terhadap kecerdasan, oleh karena itu jangan terburu-buru dalam bersujud.
  1. Duduk. Variasi posisi telapak kaki pada duduk iftirosy dan tawaruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks. Gerakan ini menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak
  1. Salam. Gerakan salam membuat otot di sekitar leher menjadi relaks dan menyempurnakan aliran darah ke kepala. Serta menjaga kekencangan kulit wajah dan mencegah sakit kepala.
Gerakan shalat tidak akan memberikan manfaat jika dilakukan secara terburu-buru atau tergesa-gesa. Lakukanlah sholat dengan khusyu dan tuma’ninah selain memperoleh pahala dari shalat yang telah dilakukan, tubuh akan merasakan manfaat dari tiap-tiap gerakan shalat.



By: Faisal Amir Muharrom

Selasa, 01 Oktober 2019

Sejarah Ilmu Dakwah

“SEJARAH ILMU DAKWAH”



Oleh
Devi Yolanda Oktavia (B94219073)
Faisal Amir Muharom (B94219074)
Fakhri Ali Fatoni (B94219075)
Kelas D3
Dosen Pengampu 
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I
Ati` Nursyafa`ah M.Kom.I
Asisten Dosen II
Baiti Rahmawati S.Sos

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI 
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, dengan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Shalawat serta salam tak lupa juga kami haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Karena beliaulah kita dapat merasakan nikmatnya iman. 
Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Ilmu Dakwah. Kami berterima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku pengampu mata kuliah Ilmu Dakwah yang membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa kami berterimakasih kepada teman-teman yang telah membantu memberikan masukan dan kritikan sehingga tersusunlah makalah ini.
Makalah ini berisi pembahasan tentang Sejarah Ilmu Dakwah. Kami menyadari terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini, maka dari itu kami meminta kritik dan sarannya kepada pembaca demi tercapainya makalah yang sempurna. Besar harapan kami juga semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surabaya, 22 Agustus 2019

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI 1
BAB I 2
PEMBAHASAN 2
A. Ilmu Balaghoh : Embrio Imu Dakwah 2
B. . Dinamika Wacana Dakwah 6
C.Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu 10
BAB II 16
PENUTUP 16
DAFTAR PUSAKA 16




BAB I
PEMBAHASAN

Ilmu Balaghoh : Embrio Imu Dakwah
Sejarah: Uraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh penduduk syracuse, suatu koloni Yunani di Pulau Sicillia. Mereka menggunakan retorika untuk meyakinkan dewan juri di pengadilan hingga dapat memenangkan perkaranya.

Pengertian: Ilmu Balaghah dikembangkan oleh ulama kontemporer (Al Muta-akhirin). Kata balagha berarti sampai. Kata ini sering digunakan Al Quran terkait dengan dakwah. Dengan demikian, ilmu balaghah adalah ilmu tentang tablig, yakni bagaimana pendakwah menyampaikan ajaran Islam yang mudah dipahami mitra dakwah.

     Macam-macam ilmu balaghah: Ilmu balaghah memuat tiga disiplin ilmu, yakni ilmu al-Ma'ani (ilmu tentang cara memberikan pemahaman),ilmu al Bayan(ilmu tentang memberikan penjelasan),dan ilmu al-Badi'(ilmu tentang cara memberikan keindahan bahasa). Ilmu al-Ma'ani, adalah ilmu tentang dasar-dasar atau kaidah-kaidah untuk memahami pembicaraan bahasa arab yang sesuai dengan suatu kondisi. Dengan kata lain, ilmu al-Ma'ani adalah ilmu yang mengajarkan cara menyampaikan pesan yang mudah dipahami. Arah pembicaraan yang sesuai dengan keadaan merupakan objek ilmu al-Ma'ani. Ilmu ini dapat digunakan untuk mengetahui mukjizat Al-Qur'an serta menggali rahasia ungkalan yang fasih (jelas kata-katanya) dan baligh (jelas kata dan maknanya). Selain itu, tujuan ilmu al-Ma’ani adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan yang dikehendaki penutur yang disampaikan kepada lawan tutur.  
Pencipta ilmu ini adalah Syekh 'Abd al-Qahir al-Jurjani. Beberapa ulamayang mengembangkan ilmu al-Ma'ani antara lain: al-Jahizh, Ibnu Qutaibah, dan al Mubarrid.

     Jika kita membandingkan antara ilmu al-Ma'ani dan ilmu komunikasi, keduanya memiliki sisi kesamaan dan perbedaan. Keduanya bertujuan mencapai komunikasi yang efektif. Hanya saja, ilmu al-Ma'ani ditekankan melakui pengelolaan bahasa, ilmu komunikasi dengan media. Keduanya juga menyesuaikan kondisi pembicaraan, tetapi ilmu al-Ma'ani menyesuaikan pesan dengan penerimanya, sedangkan ilmu komunikasi menyesuaikan dengan komunikator dengan komunikan.

     Agar pesan utama dakwah tidak menyimpang dari topik dan tujuannya, kita perlu mempelajari ilmu al-Bayan. Ilmu ini menawarkan varian metode untuk menguraikan satu kalimat pokok dengan beberapa kalimat penjelas yang relevan. Kalau pendakwah menulis satu paragraf dengan benar, ia telah menerapkan ilmu al-Bayan. Dengan penguasaan ilmu ini, seorang pendakwah dapat menguraikan hadits dalam satu jam dengan ceramah yang terfokus dan terbobot. Pencipta ilmu al-Bayan adalah Abu Ubaidah, murid Imam al-Khalil bin Ahmad.

     Ilmu al-Bayan hampir sama dengan ilmu retorika. Keduanya mengembangkan suatu topik. Dalam retorika, teknik pengembangan bahasan dapat dikelompokkan menjadi enam macam, yaitu: penjelasan, contoh, analogi, testimoni,dll. Dalam ilmu al-Bayan, secara garis besar ada tiga cara untuk mengembangkan kalimat,yaitu al-Tasybih(metafora), al-Majaz(sindirin),dan al-Kinayah(kiasan).

     Dalam ilmu balaghah, pemahaman dan penjelasan saja tidak cukup, tetapi perlu keindahan kalimat. Untuk menyusun keindahan kalimat, ilmu al-Badi' dapat dipelajari. Tingginya nilai suatu sastra dapat dilihat dengan instrument ilmu al-Badi'. Ilmu ini menawarkan beberapa metode untuk membuat keindahan kalimat, ungkapan, maupun pernyataan dari sudut kata-kata (al-lafzhiyyah) dan maknanya (al-mana'wiyyah). Peletak dasar ilmu al-Badi' adalah 'Abdullah bin al Mu'taz al-Abassi.

     Dari ketiga cabang ilmu balaghah tersebut, ilmu balaghah lebih dari sekedar ilmu komunikasi dan retorika, tetapi juga sebagai kajian sastra bahasa. Selama ini kajian ilmu balaghah sebagai sastra bahasa lebih berkembang dari model kajian ilmu komunikasi. Itu pun selalu berkutat pada syair dan ungkapan bahasa arab, terutama meneliti keindahan bahasa ayat-ayat Al-Qur'an. Padahal, teori-teori yang dikembangkan dalam ilmu balaghah tidak jauh berbeda dengan teori-teori ilmu komunikasi, terutama retorika. Teori-teori ilmu balaghah juga bisa digunakan untuk pernyataan yang bukan bahasa arab. Para ulama yang mempelajari ilmu balaghah tidak hanya mengetahui keindahan sastra dalam Al-Qur'an, namun juga dapat menjadi pendakwah yang mengesankan. Oleh karena itu, ilmu balaghah dapat dinyatakan sebagai embrio dari ilmu dakwah. Dalam lingkup kajian yang pertama terdapat satu akar epistemologis yaitu disiplin ilmu hadits.

B. . Dinamika Wacana Dakwah

Dakwah telah lama menjadi wacana lama yang tidak akan pernah berhenti sepanjang masa, ada dua hal yang menjadikan dakwah sebagai wacana yang tidak akan ada habis nya sampai akhir hayat.
  Alasan pertama adalah dakwah melahirkan manusia yang mengubah situasi sosial menjadi lebih baik. Ini dapat dijelaskan dengan teori manusia besar (big man theory).
Ada tiga asumsi dari teori ini (Piotr Sztompka, 2005: 310-113) : 

1. Hanya manusia besar yang mengubah sejarah (determinisme heroik)
2. Sejarahlah yang memunculkan manusia besar(determinisme sosial)
3. Kapabilitas manusia besar dengan dukungan massa yang dapat mengubah sejarah(evolusioner-adaptif).

  Asumsi terakhir ini yang relevan dengan munculnya pendakwah yang muncul pada situasi yang tepat .
  Alasan kedua adalah dakwah merupakan perintah Allah SWT yang termaktub dalam kitab kitab agama samawi. 
  Secara garis besar tahap tahap perkembanganilmu dakwah terbagi menjadi tiga tahap:

Pertama , tahap konvensional

Pada tahap ini dakwah masih masih merupakan kegiatan keagamaan berupa seruan atau ajakan untuk menganut dan mengamalakan ajaran Islam yang dilakukan secara konvensional yang artinya dalam pelaksanaan, dakwah belum berdasar kepada metode metode ilmiah, tetapi berdasarkan pengalaman orang per orang.

Kedua, tahap sistematis

Pada tahap ini, ditandai dengan adanya perhatian masyarakat yang lebih luas terhadap permasalahan dakwah islam. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya penyelenggaraan seminar, diskusi, sarasehan, dll.
Gejala-gejala proses keilmuan dakwah mulai terlihat dalam tahap ini, sehingga tahap ini sangat menentukan tahap selanjutnya

Ketiga, tahap ilmiah

Pada tahap ini, dakwah telah berhasil tersusun sebagai ilmu pengetahuan dan telah berhasil tersusun sebagai ilmu pengetahuan dan telah memenuhi beberapa persyaratan pokoknya, yaitu objektif, metodik, universal, dan sistematis. Ini adalah berkat jasa para ulama dan para sarjana muslim yang telah mengkaji secara serius, baik dalam penelitian lapangan (field research) maupun penelitian kepustakaan (library research).
Dari tahapan yang sudah dijelaskan diatas kita harus bisa membedakan pemikiran dakwah sebagai ilmu.dan dakwah sebagai kegiatan mendiskusikan pesan pesan dakwah.
Dalam penelusuran kitab kitab fiqih , para ahli fiqih menekankan dakwah struktural yang dibebankan pada tugas negara (al-fiqh al-siyasi) 
Kitab nahj al-balaghah (metode penyampaian pesan) berisi mengenai pesan pesan Ali bin Abi Thalib. Nashihah al-Muluk(nasihat untuk para penguasa) merupakan kitab yang ditulis oleh Al Mawardi(w.450 H). Al Ghazali (w. 505 H) ternyata juga menulis kitab kitab yang berjudul 
Nashihah al-Muluk(nasihat untuk para penguasa dan al- muntahal fi `ilm al-Jadal(peniruan tentang ilmu debat)
Nama nama ulama ulama yang berjasa menulis kitab tentang dakwah dizaman keemasan antara lain :
Abu Yahya `Abd al-Rahim (946-948M) beliau menjelaskan banyak hal tentang dakwah dalam kitab nya kemudian diterbitkan dan diberi penjelasan oleh orang lain
`Abd al-Mahmud Zamakhsyari (1075-1144 M) yang terkenal dengan kitab nya , Athwaq al-Zanab fi al-mawa`izh wa al-Da`wah (kemampuan besar tentang nasihat dan dakwah)
Ma`man al-Alusi, penulis kitab Ghaliyah al-Mawa`izh(nasihat yang berharga)
Syekh syu`aib hurayfisy yang menulis kitab al-Raudl al-Faiq fi al-Mawaizh wa al-Raqa`iq (Latihan unggulan mengenai nasihat dan kasih sayang) 
Pengaruh pemikiran dakwah dengan pendekatan teologis-filosofis tumbuh dan berkembang di perguruan tinggi islam, khususnya universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 
Pendekatan ini telah menjadi perdebatan akademik di beberapa kampus. Sementara itu, kitab kitab dakwah dengan sufistik ditelaah di pesantren-pesantren maupun sekolah islam. Pendekatan ini telah diterima masyarakat muslim secara luas.
Dakwah dinamis terdiri dari dua kata yaitu dakwah dan dinamis. Menurut Asep Muhidin (2002:19). Dakwah adalah upaya kegiatan mengajak atau menyeru umat manusia agar berada di jalan Allah (sistem Islami) yang sesuai dengan fitrah dan kehanifannya secara integral, baik melalui kegiatan lisan dan tulisan atau kegiatan nalar dan perbuatan, sebagai upaya pengejawantahan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran spiritual yang universal sesuai dengan dasar Islam.
 
Dakwah juga dapat dimaknai sebagai proses transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam dari seorang atau sekelompok da’i kepada mad’u dengan tujuan orang yang menerima transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam itu terjadi pencerahan iman dan juga perbaikan sikap serta prilaku yang Islami.
Perbedaan wacana dakwah lama dan wacana baru adalah jika wacana lama bersifat tradisionalis maka wacana baru bersifat post tradisional atau bisa dikatakan lebih modern. 


C. Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu

Dalam perkembangan masyarakat dakwah yaitu menggarami  kehidupan manusia dengan nilai-nilai Islam, Iman, dan Takwa demi kebahagiaan kedepannya agar lebih baik menuju ke jalan Allah. Selama itu pula umat islam berkewajiban untuk  menyampaikan pesan risalah kenabian dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun coraknya. Maksut dari risalah kenabian tersebut yaitu tulisan formal yang membahas topik tertentu dengan menggunakan metode dan prinsip tertentu secara sistematis, hati-hati, dan teliti. Isi pesan itu pada hakikatnya merupakan tuntutan abadi nurani manusia sepanjang zaman. Terdapat dalam Al-Qur’an surat (fushilat:33),” bahwa ucapan yang terbaik adalah ucapan orang yang menyeruh kepada allah, beramal saleh, dan memproklamasikan dirinya sebagai orang yang berserah diri sebagai salah serorang anggota dari komunitas muslim”. Maksut dari komunitas Muslim tersebut yaitu suatu komunitas yang ditegakkan berdasarkan moral-moral Islam, Iman, dan Takwa yang dipahami secara padu, utuh, dan benar. Komunitas yang tidak eksklusif karena berfungsi sebagai teladan di tengah-tengah arus kehidupan yang penuh problematika., tantangan dan pilihan-pilihan yang yang terkadang rumit. Dengan ketajaman iman dan kecerdasan kita dapat menetapkan pilihan yang tepat dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan membirikan arah moral menuju ke perubahan yang lebih baik.        
Melihat secara kritis persoalan dakwah dalam kaitannya dengan kecenderungan masyarakat Indonesia akhir abad ini. Pertama, terlihat dalam hubungan internal umat Islam. Kedua, berhadapan dengan gejala sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan Negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan (sekulerisme), paham filsafat yang menyatakn bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi (materialisme), sebuah pamdangan folosofi yang tidak mempercayai adanya Tuhan (ateisme). Ketiga, masih berkaitan erat dengan yang pertama, mengenai persaudaraan Islam (ukhuwah).

Perkembangan Dakwah Islam Sunan Kalijaga

Sasaran Dakwah Islam Sunan Kalijaga.
Sasaran dakwah Sunan Kalijaga adalah masyarakat luas, khususnya daerah Jawa. Kondisi masyarakat Jawa pada umumnya memiliki pola dan filsafat hidup yang berbeda dengan beberapa masyarakat di daerah lain. Hal inilah yang melatarbelakangi model dakwah Sunan Kalijaga. Falsafah dalam hal ini memiliki arti tentang kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Arti harfiahnya adalah seorang pecinta kebijaksaan/ilmu.  

Falsafah ini diyakini dan dipegang erat serta diwariskan secara turun temurun kepada generasi penerusnya. Secara garis besar, falsafah hidup orang Jawa memiliki tiga landasan utama. Yang pertama, berlandaskan pada kesadaran akan ketuhanan, percaya dengan adanya tuhan bahwa tuhan hanyalah satu Allah SWT semata. Kedua, berlandaskan pada kealamsemestaan dan segala isinya. Ketiga, falsafah yang berlandaskan pada kesadaran manusia, pengenalan terhadap diri sendiri merupakan syarat utama untuk mencapai hidup yang otentik (dapat dipercaya).

Disamping itu, dalam falsafah hidup orang jawa terdapat sebuah ajaran mengenai keutamaan hidup. Secara umum maksut dari tulisan di atas, bahwa secara alami manusia memiliki kemampuan dalam membedakan mana yang baik dan mana itu perbuatan yang buruk. 

Meskipun demikian, manusia terkadang masih lalai dan mengabaikan kemampuannya, sehingga mereka terjebak dalam perbuatan yang tidak pantas melenceng jauh dari ajaran agama. Oleh karena itu, diperlukan upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut, mengajari manusia agar memilih perbuatan yang benar dan menjauhi perilaku yang salah agar tidak melenceng dari jalan Allah SWT.


Salah satu ajaran paling populer adalah “ajaran mikul duwur mendem jero (menjunjung tinggi derajat dan harkat martabat orang tua). Orang jawa dengan kecerdasannya mampu menciptakan primbon dengan menggunakan istilah-istilah lokal yang unik”     
   
Terdapat banyak sekali primbon yang dipakai dan diyakini oleh beberapa kalangan masyarakat.
Hal ini tentu saja merupakan kelebihan tersendiri bagi orang jawa, karena secara tidak langsung hal ini menunjukkan tingkat kecerdasan tersendiri. Sebuah kitab primbon Jawa seri Batal Jemur yang terdiri dari 9 jilid, misalnya, merupakan kitab karya adiluhung dan merupakan kitab masterpiecenya (pencapaian besar) orang Jawa. Di dalamnya dijelaskan tentang sifat-sifat wanita berdasarkan ciri fisik dan tanggal kelahirannya. Kitab ini masih digunakan oleh sebagian orang pada saat mereka hendak meminang seorang istri.
Dalam menjalankan tugasnya menyebarkan agama Islam, cara yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga berbeda dengan beberapa para wali lainnya. Beberapa wali menyebarkan agama islam dengan cara membangun pondok, musholah atupun pedepokan, maka tidak demikian dengan Sunan Kalijaga beliau merantau dari satu tempat ke tempat lain. Beliau menemui masyarakat umum dan menyampaikan ajaran Islam disetiap beliau singgah melalui metode dakwah. 

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga menerapkan prinsip “menjemput bola” daripada menunggu. Maksutnya, Sunan Kalijaga memilih mendatangi masyarakat secara langsung dan berdakwah kepada mereka.
Pengaruh Dakwah Islam Sunan Kalijaga 
Pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga  dalam dakwahnya dengan menggunakan sikap ramah dan santun terhadap budaya setempat, menjadikan dakwahnya begitu mudah diterima oleh masyarakat. Pendekatan-pendekatan yang memperhatikan aspek budaya ini sangat penting, mengingat masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang kaya akan budaya. Sunan Kalijaga membiarkan budaya masyarakat lokal, asalkan itu tidak menyimpang dari ajaran agama Islam.
Dengan modal seperti itu, maka tidak heran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam lewat seruan-seruan dakwahnya dapat mempengaruhi masyarakat bawah, bahkan pejabat-pejabat penting pada waktu itu. 
Diterimanya dakwah Sunan Kalijaga, menunjukkan bahwa sikap ramah dan santun yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam menjalankan dakwahnya lebih efektif dibanding cara-cara yang frontal. Hal ini semakin menegaskan, bahwa tersebarnya Islam di bumi Nusantara lebih mengedepankan cara-cara yang ramah dan santun, sehingga Islam benar-benar menjadi Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semesta).  




Tasawuf Sosial
Membangun Dakwah Bil Hal

Kiai Sahal ulama besar yang lahir,tumbuh , dan wafat di Kajen Mergoyoso. Beliau sosok yang sangat fenomenal. Menurut Kiai Sahal, dakwah tidak hanya retoris (sindiran). Dakwah yang sesungguhnya adalah dakwah yang menagajak masayarakat ke jalan yang benar dengan cara yang efektif. Dakwah efektif dengan melakukan perubahan ke arah yang positif. Disebut dakwah bil hal, yaitu dakwah dengan melibatkan seluruh kelompok masyarakat dalam mengorganisir potensi untuk melakukan program-program visioner dibidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Keteladanan menjadi faktor kunci dakwah bil hal.


BAB II
PENUTUP

  Ilmu balaghah adalah ilmu tentang tabligh, yaitu bagaimana pendakwah menyampaikan ajaran islam yang mudah dipahami oleh mitra dakwah. Ilmu balaghah terbagi menjadi 3 macam yaitu : Al-Ma'ani, Ilmu Al-Bayan,dan Ilmu Al-Badi’.
Wacana dakwah sebagai salah satu wadah untuk berdakwah di kalangan masyarakat untuk membantu masyarakat lebih mengenal ajaran islam, wacana dakwah juga bisa menjadi wadah dalam mendiskusikan masalah masalah agama.
Dakwah saat ini berbeda dengan dakwah yang dilakukan oleh sunan kali jaga dahulu, dakwah kali ini bisa menggunakan media sosial, jurnal, dan alat elektronik lainya, tetapi dakwah yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga masih bisa diteladani untuk mengajak atau menyeruakan ajakan untuk mempelajari ilmu agama lebih baik lagi.





DAFTAR PUSAKA

Abdul Basit, Dr. Filsafat Dakwah. 2013
Alhidayatillah, Nur. 2017. Dinamika Dakwah di  Masyarakat. https://uin-suska.ac.id/2017/09/04/dinamika-dakwah-di-masyarakat/ (di akses  22 agustus 2019)
Anwar, Rusidi.Kesaktian dan Tarekat Sunan Kali Jaga.. Jakarta : PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. 2019.
Asmani, Jamal Ma’mur. Tasawuf Sosial Kh. Ma. Sahal Mahfudh. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. 2019.
Asry, Nahdatunnisa. 2019. Model Gerakan Dakwah di Indonesia. Bone  
Awaluddin, Fajar A. 2019.  Ilmu Balaghah Sebagai Embrio dalam Dunia Dakwah
Aziz, Moh Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana. 2004.
Basit, Abdul. 2013. Dakwah Cerdas di Era Modern. 
Fakultas ilmu dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dakwah dan Perubahan Masyarakat. Jurnal Ilmu Dakwah. Vol 12 No 2. 2005.
Hasanah, Hasyim. 2016. Arah Pengembangan Dakwah Melalui Sistem Komunikasi Islam.
http://jki.uinsby.ac.id/index.php/jki/article/view/15
http://www.ukm.my/sari/images/stories/SariOnline?SARI_292_2011_-_004.pdf 
https://journal2.um.ac.id/index.php/jbs/article/view/60 
Maarif, Ahmad Syafii. Islam Dan Politik. Yogyakarta: IRCiSoD. 2018.
Mohammad, Halim Abdul. 2011. Unsur-unsur Ilmu Badi’ Arab
Nurbayan, Yayan. 2010. Pengembangan Materi Ajar Balaghah.
Riyadi, Agus. 2014. Tarekat Sebagai Organisasi Tasawuf.
Syahputra, Iswandi. Komunikasi Profetik. Bandung: Reffika Offset